Jadilah
pemuda yang berkarakter
Semarak pesta natal dan tahun baru
2016 begitu terasa dihati seluruh keluarga
manggarai yang ada di Yogyakarta, dalam rangkaian acara Natal dan Tahun baru
bersama yang diselenggarakan oleh keluarga besar IKALEWA pada tanggal 2 januari 2016. Mulai pukul
18.00 wib, ribuan orang sudah memadati Hotel Satya Graha jln. Veteran tempat acara berlangsung. Hampir
seluruh keluarga Manggarai yang ada di Yogyakarta turut ambil bagian dalam
rangakaian acara tersebut. Acara Natal
dan Tahun baru kali ini keluarga besar IKALEWA mengangkat tema “ JADILAH PEMUDA
YANG BERKARAKTER”. Dalam pesan Natalnya Ketua Ikalewa Sdr. Ronaldus Jantur menekankan betapa pentingnya
hidup saling menghargai tanpa kebencian diantara sesama, khususnya diantara
sesama keluarga Manggarai yang ada di tanah jogja. Kita harus membiasakan diri
untuk duduk bersama dalam mengurai persoalan. Pemuda Manggarai haruslah menjadi
pioner perdamaian bukan sebaliknya menebarkan kebencian diantara sesama.Suasana
kekeluargan begitu terasa saat saudara Andris Pegau memimpin renungan Natal di
tengah keheningan dengan penuh hikmat dan kusut. Dalam renungan singkatnya,
saudara Andris mengajak kaum muda katolik untuk tetap memelihara toleransi
antar umat beragama dalam bingkai bhineka Tunggal Ika dibawah payung NKRI. Rangkaian
acara diakhiri dengan diskusi bersama yang mengangkat tema “ JADILAH PEMUDA
YANG BERKARAKTER” dengan Pembicara sdr. Rian Juru dan Bpk. Haji ardi. Dalam
paparan singkatnya saudara Rian Juru lebih menekankan peran pemuda Manggarai
Yogyakarta dalam menanggapi isuPante Pede di Manggarai Barat. Lebih lanjut dia
mengatakan bahwa sebagai pemuda Manggarai kita harus hadir untuk menyelesaikan
persoalan pante Pede. Mengembalikan Pante Pede sebagai Natas bate labar
membutuhkan sifat radikalisme anak muda, kata rian juru menyemangati yang
hadir. Diskusi kian menarik takkala yang hadir mengangkat persoalan rendahnya
tingkat kesadaran dan partisipasi mahasiswa Manggarai Yogyakarta dalam menyuarakan persoalan lokal,
khususnya masalah mengenai privatisasi pante pede yang akhir – akhir ini hangat
dibicarakan ditengah masyarakat. Menanggapi hal itu Rian Juru dengan lugas
mengatakan bahwa komunitas Manggarai Yogyakarta banyak diisi oleh kaum
akademisi yang mumpuni, sehingga sangat mudah untuk di ajak duduk bersama
menyelesaikan persoalan yang ada.Malam ini awal perjuangan kita, selama ini
mungkin tidak ada ruang untuk duduk bersama. Sedangkan menanggapi strategi
menyelesaikan persolan pante pede tanpa perang orizontal, Rian Juru kembali
mengingatkan pemerintah untuk berbuka hati dan bisa menerjemahkan perasaan hati
masyarakat Manggarai barat.Ini persoalan hati masyarakat, jangan sampai terluka
demi kepentingan kaum kapitalis. Di akhir paparan singkatnya, dia kembali
menekankan bahwa perjuangan butuh kekuatan bersama. Kita harus menjalin relasi seluas
-luasnya yang mempunyai satu pola pikir yang sama untuk mengembalikan Pante
pede sebagai warisan leluhur kita. Sedangkan Bpk. Haji Ardi dalam paparannya
mengingatkan kaum muda Manggarai agar jadi pejuang bukan peminta – minta. Anak
muda Manggarai harus berperilaku produktif bukan konsumtif. Kita harus bisa
mandiri dan berani memulai sesuatu tanpa mengandalkan orang lain. Pemuda yang
berkarakter harus dimulai dengan pola pikir yang jujur. Kembali mengangkat
sejarah mengenai perjuangan pemuda masa lalu, Hj. Ardi dengan nada prihatin
melihat perjuangan pemuda masa kini yang bisa digadaikan oleh kelompok
tertentu. Perjuangan pemuda masa kini kehilangan arah karena digrogoti oleh kepentingan
tertentu.Menutupi paparannya bpk. Haji Ardi kembali mengingatkan kaum muda
manggarai yogyakarta agar lebih peka dengan realita yang terjadi. Kita harus
bersuara dan berani untuk melawan ketidakadilan yang terjadi di tengah
masyarakat.Teruslah bersuara tanpa uang, jangan pernah bisu karena merah dan
biru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar